Kado Terakhir Untuk Bunda

Cerpen Karangan:   Sifa Hasta Marettina Lolos moderasi pada: 8 March 2016 Jam weker usangku masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun sepe...

Hasil gambar untuk bunda
Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 8 March 2016 Jam weker usangku masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun seperti biasa aku terbangun untuk salat tahajud. Aku segera bangkit dari tempat tidur untuk mengambil air wudu. Seusai salat aku pergi ke belakang untuk mengambil air minum. Saat itu ku lihat bunda sedang sibuk membuat kue. Semenjak ayah meninggal bunda banting tulang mencari uang demi mencari sesuap nasi, ini telah berlangsung hampir dua tahun. Biasanya bunda menjajakkan kuenya dengan cara berkeliling kampung dan sebagian aku bawa untuk dijual di sekolah. Lumayan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.
“Bun, tumben hari ini bikin kue lebih banyak dari biasanya?” tanyaku sambil menuangkan air.
“Eh.. kamu sudah bangun Nak, iya nih soalnya kemarin ada tetangga yang pesen. Lumayanlah buat tambah-tambah.” jelas bunda.
“Alhamdulillah ya Bun.” ucapku. Bunda hanya menjawab dengan anggukan disertai dengan senyum khasnya.
“Aku perhatiin akhir-akhir ini Bunda kelihatan pucat, Bunda nggak apa-apa kan? tanyaku cemas dengan menempelkan punggung tanganku di kening bunda.
“Bunda nggak kenapa-kenapa Aninda sayang, mungkin cuma kecapean dikit.” jawab bunda sambil memelukku.
“Maaf ya Bun.” kalimat itu spontan keluar dari mulutku.
“Maaf untuk apa sayang?” Tanya bunda.
“Karena aku nggak bisa ngebahagiain Bunda.” jawabku dengan air mata yang menetes di pipi.
“Siapa bilang kamu nggak bisa bahagiain Bunda, buktinya kamu selalu membuat Bunda bangga dengan prestasi-prestasi kamu. Udah ah masa pagi-pagi gini udah nangis, anak kesayangan Bunda kan kuat nggak cengeng begini.” hibur bunda sambil mengusap air mataku.
“Ya udah Bun.. aku ke kamar dulu mau belajar buat persiapan Olimpiade.”
“Iya udah cepet sana nanti ke buru siang lagi.” Aku pun masuk ke kamar untuk mempersiapkan diri menghadapi Olimpiade Kimia yang tinggal menghitung hari. Setelah selesai berpakaian aku segera menuju meja makan untuk sarapan. Seperti biasa bunda telah menyiapkan telur mata sapi, menu favoritku.
“Nak, olimpiade jadinya tangga berapa?” Tanya bunda sambil menyiapkan kue-kue yang akan ku bawa ke sekolah.
“Seminggu lagi Bun, aku makin grogi takut ngecewain pihak sekolah juga takut ngecawain Bunda.” jawabku.
“Sayang Bunda yakin kamu pasti bisa, karena Bunda tahu kamu telah berusaha semaksimal mungkin.” tutur bunda dengan penuh kasih.
“Amiiiiinnn ya Allah.. Bunda kelihatannya masih pucat gimana kalau sekarang ke dokter aja, aku bisa izin kok masuk agak siang.” tanyaku cemas.
“Bunda nggak kenapa-kenapa kok, istirahat sebentar aja pasti sembuh.” jawab bunda berusaha meyakinkanku.
“Ya udah, tapi Bunda istirahat ya? aku berangkat sekolah dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Aku biasa pergi sekolah dengan menaiki sepeda sayur, yang ku beli dengan uangku sendiri. Setibanya di sekolah seperti biasa aku telah disambut oleh sahabatku Nisa.
“Pagi Aninda!! tumben siang ke sekolahnya?” Tanya Nisa.
“Iya nih, soalnya Bunda lagi sakit aku ajak ke Rumah Sakit tapi nggak mau.” jawabku panjang lebar.
“Ya ampuunn ada-ada aja Nin, semoga Bunda kamu cepet sembuh. Oya tadi kamu dipanggil sama Bu Diana, mungkin bimbingan lagi Nin,”
“Aku langsung nemuin Bu Diana deh, tapi kue-kuenya kan belum disimpan ke kantin.”
“Udah deh urusan itu serahin ke aku, biar aku yang antar ke kantin.” ujar Nisa penuh semangat dengan membusungkan dadanya. “Makasih Nisa cayaaaaangggg!” Ucapku sambil mencubit pipinya. Aku pun segera berlari menghindari balasan dari Nisa yang sudah melotot. Waktu terasa bergulir semakin cepat, hari-hariku selalu diisi dengan persiapan Olimpiade yang tinggal satu hari lagi. Namun pikiranku sedikit terganggu karena kondisi bunda yang makin hari makin pucat.
Di sore hari aku duduk di teras rumah, tahu-tahu bunda sudah duduk di sampingku.
“Aninda sayang.. Bunda sayaaaaaangg banget sama kamu Nak. Kamu adalah harta Bunda yang paling berharga. Bunda ingin selalu ada di samping kamu melihat kamu tumbuh dewasa, melihat kamu menikah.” ucap bunda sambil mengelus kepalaku penuh kasih sayang. Aku kaget dan nggak mengerti kenapa bunda bicara seperti itu. Dan itu membuatku semakin takut. “Bun.. kenapa Bunda bicara seperti itu? Bunda akan selalu ada di sampingku. Bunda pasti bisa melihat aku tumbuh dewasa dan menikah.” tak terasa air mataku menetes.
“Bunda juga nggak tahu kenapa bisa bicara seperti ini seperti ini. Besok pelaksanaan olimpiade kan sayang?”
“Iya.. doain ya Bun, semoga aku bisa memberikan yang terbaik. Pokoknya kalau aku jadi juara, trofinya khusus ku berikan sebagai kado untuk Bunda.” ucapku penuh semangat.
“Amiinn.. Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang.” jawab bunda sambil memelukku.
Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa momen ini rasanya begitu mengharukan, seolah-olah ini adalah momen perpisahan. Namun segera ku tepis perasaan ini dari hati dan pikiranku. Malam harinya aku nggak bisa tidur, padahal aku sudah berusaha memejamkan mata tapi mata ini tetap menolak untuk terpejam. Aku sedang memikirkan apa yang akan terjadi besok. Aku berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar. Hari yang ku tunggu pun tiba, hari yang membuatku tak bisa tidur semalaman. Tak sedikit pun terpikir bahwa hari ini Allah akan mengambil seseorang yang amat ku cintai dalam hidupku.
“Bunda aku pamit ya, mohon doanya semoga aku bisa mendapat hasil yang seperti yang diharapkan dan bisa membuat Bunda bangga. Bunda kelihatan tambah pucat. Aku antar Bunda ke rumah sakit ya?” tanyaku cemas.
“Doa Bunda selalu menyertaimu Nak, Bunda nggak kenapa-kenapa kok nanti juga sembuh. Cepet berangkat Nak, nanti terlambat,”
“Iya Bun. Assalamualaikum…”
“Waalaikumussalam.” Aku pun sampai di sekolah. Kebetulan Olimpiade tahun ini diadakan di sekolahku. Rasa gugup semakin menyelimutiku, hingga tanganku pun terasa amat dingin.
“Tenang Nin aku yakin kamu pasti bisa!!” ujar Nisa menyemangatiku sambil menggenggam erat tanganku.
“Iya makasih Nis, aku jadi lebih tenang sekarang.” jawabku disertai senyuman.
Akhirnya aku berhadapan dengan soal-soal yang sedang menunggu untuk segera dijawab olehku. Aku tersenyum saat melihat soal-soal di hadapanku, karena semua soalnya sudah pernah dibahas oleh guru pembimbingku. Ku teliti kembali jawaban-jawaban yang telah ku dapat, takut- takut kalau ada yang salah. Begitu bel pertanda olimpiade berakhir telah berbunyi, aku segera mengumpulkan jawabannya dengan mantap tak lupa ku ucapkan hamdalah. Tiba saatnya pengumuman juara. Hatiku semakin gugup tak karuan. Juara ketiga dan kedua telah diumumkan namun namaku tidak disebut juga. Aku telah pasrah jika aku tidak mendapatkan predikat juara. Namun ternyata aku salah…
Teriakan MC yang membacakan juara semakin membuatku tambah penasaran. “Oooww..ooww kelihatannya para peserta dan guru pembimbingnya semakin tegang!! langsung saja Juara Pertama Dimenangkan Oleh Aninda Latifah Bilqis!!” Aku sama sekali nggak menyangka kalau namaku yang disebut sebagai juara pertama. Tak terasa air mataku mengalir deras, aku segera bersujud syukur. “Alhamdulillah.. Terima kasih Ya Allah. Bunda aku berhasil ku persembahkan ini untuk Bunda.” ucapku dalam hati. Aku pun segera naik ke panggung untuk mengambil trofi dan uang pembinaan yang jumlahnya sangat lebih dari cukup. Aku juga menyampaikan ucapan terima kasih di hadapan para hadirin yang ada di ruangan ini.
“Terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengabulkan doaku. Juga ku ucapkan terima kasih untuk bundaku tercinta yang selalu memberikan cinta dan kasih sayangnya untukku juga terima kasih karena Bunda bisa menjadi dua sosok sekaligus yaitu sebagai Ayah sekaligus Bunda. Saat ini Bunda tidak bisa hadir di sini karena beliau sedang sakit. Semoga penyakitnya segera diangkat oleh Allah SWT.”
“Amiiinnn…” Jawab semua hadirin kompak.
Sontak ruangan ini riuh dengan tepuk tangan. Aku sangat bangga melihatnya. Tepat saat aku mengakhiri pembicaraan, ku lihat Nisa mengacukan handphone-ku seolah memberitahuku bahwa ada sesuatu yang penting. Keningku berkerut berjuta pertanyaan melayang-layang di pikiranku. Aku pun segera turun dari panggung dan berlari ke arah Nisa. Entah kenapa hatiku berdegup begitu kencang. “Ada apa Nis? Siapa yang nelepon?” Tanyaku dengan nada cemas. “Sebaiknya kamu dengar sendiri, masih tersambung kok teleponnya.” jawab Nisa dengan mata berkaca-kaca. Segera ku raih handphone itu dari Nisa agar aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Halo, Assalamualaikum?”
“Walaikumsalam, Ninda ini tante Mirna..” jawab orang di seberang sana.
“Iya Tante, Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Ninda Bunda kamu masuk rumah sakit dan sekarang kondisinya kritis. Cepat kamu datang ke sini.” suaranya begitu cemas juga disertai tangisan. Begitu mendengar hal itu air mataku mengalir begitu deras. Kebahagiaanku sirna seketika. Seolah-olah hari yang cerah dalam sekejap mata berganti dengan hujan di sertai halilintar menyambar-nyambar. “Inna lillahi, iya Tante aku segera ke sana.”
Aku segera berlari sekuat mungkin dengan trofi di genggamanku. Aku tak peduli dengan tatapan iba dari orang-orang yang berada di sekelilingku. Karena yang ku ingin saat ini hanya satu yaitu bertemu dengan bunda secepatnya. Beruntung ada guru yang berbaik hati mau mengantarku ke rumah sakit dengan mobilnya. Begitu tiba di Rumah Sakit aku segera mencari di mana bunda berada. Di depan UGD ku lihat tante Mirna dan keluargaku yang lain tengah menangis. “Bunda ada di dalam Tante?” Tanyaku lesu. Tante Mirna hanya menjawab dengan anggukan. Aku segera masuk ke dalam ruangan yang begitu asing bagiku. Karena baru kali ini aku masuk ke ruangan seperti ini. Ku lihat ada seseorang yang tengah terbaring lemah dengan peralatan medis di sekujur tubuhnya. Tak lain orang itu adalah bunda. Segera ku hampiri bunda, ku peluk bunda yang tengah terbaring lemah.
“Bunda ini aku Aninda.. Bunda kenapa bisa seperti ini?” Tanyaku dengan air mata mengalir deras yang tak mampu terbendung lagi. Mata yang sedang terpejam itu perlahan terbuka. “A-nin-da sa-yang, ja-ngan me-nangis, Bun-da sedang di-uji oleh Allah, Nak,” Ujar bunda lemah.
“Bunda aku berhasil, aku mendapat juara pertama. Ini kado untuk Bunda.” Aku pun meletakkan trofi itu di samping bunda. “Te-rima-kasih sa-yang, Bun-da tahu kalau kamu akan berh-asil. Bun-da min-ta ma-af kare-na be-lum bi-sa men-jadi Bun-da ter-baik untuk kamu Nak.”
“Nggak Bun, Bunda adalah Bunda terbaik dari sekian banyak Bunda di dunia ini.” ku genggam erat tangan bunda yang terasa semakin dingin.
“Bun-da min-ta ma-af ka-rena Bun-da nggak bi-sa lagi ber-ada di samping-mu sayang. Bunda sayang Aninda.” ucap bunda dengan senyum di bibirnya.
“Aninda juga sayaaaaaaangg sama Bunda.” ucapku sambil mencium kening bunda.
Setelah itu mata bunda terpejam, tangannya pun langsung terlepas dari genggamanku. Bunda telah pergi untuk selamanya. “Buunndddaaa jangan tingaliin Anindaaa!!” Aku berteriak begitu kencang hinga tante Mirna dan para tenaga medis masuk ke ruangan. Tante Mirna memelukku dengan selalu berbisik di telingaku agar aku kuat. Dokter dan suster segera melepaskan peralatan medis dari tubuh bunda.
“Sabar sayang, sekarang Bunda telah bahagia di sana. Tante tahu ini cobaan yang berat untuk kamu, tapi Tante yakin kamu bisa kuat menghadapi ini semua.”
Aku hanya menjawabnya dengan tangis. Ku peluk erat tante Mirna. Pemakaman bunda dilaksanakan saat itu juga. Aku mengiringi kepergian bunda dengan tangis yang begitu dalam. Nisa selalu ada di sampingku, tak pernah lelah memberiku support. Setelah kepergian bunda aku tinggal bersama tante Mirna. Sesekali aku mengunjungi rumah lamaku yang menyimpan banyak sekali kenangan tentang aku dan bunda. Aku pun dapat bangkit kembali dari keterpurukan. Senyuman terindah itu kini telah tiada namun aku harus terus menjalani hidup ini. Meskipun bunda sudah tak lagi di sampingku, namun bunda selalu ada di hatiku. Aninda sayang bunda.
TAMAT
Cerpen Karangan: Sifa Hasta Marettina
Facebook: Sheefa Hasta Gionino

COMMENTS

Nama

after class,5,Berita,103,Cerpen,8,Featured,19,headline news,7,kajian keislaman,4,kampus corner,19,Kegiatan,21,Opini,20,Puisi,13,resensi buku,4,
ltr
item
PERSMA AL-MUMTAZ: Kado Terakhir Untuk Bunda
Kado Terakhir Untuk Bunda
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTESOAmdFeyaYitW-aHPE5wSfv6GW25d0ckMqA-Mh-AZ0B5twn0Gw
PERSMA AL-MUMTAZ
http://al-mumtaz.ukm.iain-palangkaraya.ac.id/2016/03/kado-terakhir-untuk-bunda.html
http://al-mumtaz.ukm.iain-palangkaraya.ac.id/
http://al-mumtaz.ukm.iain-palangkaraya.ac.id/
http://al-mumtaz.ukm.iain-palangkaraya.ac.id/2016/03/kado-terakhir-untuk-bunda.html
true
2107564355454311192
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy